Rabu, 30 November 2016

i need you

Namaku Kennie, seorang gadis remaja yang bersekolah di SMPN XX-1, sekolah favorit di sebuah kota kecil di wilayah Jawa Timur. Kata teman-temanku, hidupku yang bergelimang harta dan uang ini sangat menyenangkan. Saat mereka bilang begitu aku selalu menjawab “Iya, makasih!” walau dalam hati kecilku tak demikian, di dalamnya malah terucap sebaliknya, “Hidupmu lebih enak tauuu!!!” setidaknya begitulah teriakan hatiku.
Guys, dalam ceritaku ini aku akan bilang ke kamu, “Hidup ini gak penting tentang harta dan uang. Tapi kita juga butuh kasih sayang orangtua.”
Terlahir dalam keluarga workaholic, hidupku bisa dibilang sangat berkecukupan. Papaku adalah pensiunan PNS sedangkan mamaku adalah seorang PNS. Kalo dihitung-hitung, penghasilan per bulan sekitar 9 juta ke atas. Aku adalah anak terakhir dari 3 bersaudara. Kedua kakak laki-lakiku sudah bekerja dengan mapan.
Aku termasuk gadis yang penuh obsesi. Obsesiku tak akan berhenti kecuali telah terpenuhi. Cukup gawat bukan? Apalagi aku K-Popers. Banyak barang-barang gak penting yang aku beli hanya untuk memenuhi obsesiku. Kadang aku nyesel, “Kenapa aku beli barang-barang gak penting gini?” tapi ya… mau gimana lagi? Itu obsesiku.
Guys, mau nanya nih! Pilih hidup bergelimang uang ato hidup dengan kasih sayang orangtua? Pasti ada aja deh beberapa anak yang memilih hidup bergelimang uang (ato bisa jadi kamu salah satunya? Ooppss…) jujur saja, gak enak lo hidup tanpa kasih sayang orangtua! Sumpah! Gak enak. Jadi jika orangtuamu banyak omong sabar turuti aja! ingin bukti gimana rasanya gak disayang orangtua?
Bukti PERTAMA:
Sejak kecil, aku selalu ditinggal orangtuaku kerja, mereka selalu berangkat subuh-pulang malem. Rasanya gak sehari pun mereka punya waktu buat ngurus aku. Aku besar di tangan Baby Sitter.
Bukti KEDUA:
Setiap aku mau beli sesuatu pasti dikasih uang, tapi saat aku minta kasih sayang, mama dan papa selalu punya bertriliun milyar juta alasan untuk menolak permintaanku.
Misal gini, “Ma, ayo jalan-jalan minggu ini!” mama bakal jawab, “Sana kalo mau pergi kemana-mana minta antar sopir. Kalo enggak, jalan-jalan sana sama kakakmu! Tapi kalo kakakmu kerja kamu tetep di rumah!” Tuh kan! Lihat kan? Mintaku cuma JALAN-JALAN, mama ceramahnya kayak ustadzah!
Bukti KETIGA:
Pas aku sakit. Biasanya orangtuamu bilang apa kalo kamu sakit? Pembukaannya pasti agak marah, kesel dan jengkel. Gitu kah? Trus habis itu dinasihati, “Makanya, jangan gini… gini… gini… tau sendiri kan akibatnya?” Hey bro! Kalian harus bersyukur orangtua kalian kasih perhatian. Lha aku? Pembukaannya sih sama, orangtuaku bakal marah-marah, bahkan sampai over. Lalu mereka bakal bilang, “Makanya nurut!” dan bye bye! Mereka bakal pergi gitu aja. Aku kadang mikir, “Nurut? Aku aja gak dikasih pengertian cuma dituntut, dituntut dan dituntut! Gimana aku bisa nurut coba?”
Bukti KEEMPAT:
Suatu hari, aku minta peluk dan cium dari MAMAKU dan kau tau apa yang dikatakannya? “Udah besar minta begituan! Gak pantes! Gak malu apa sama temen-temen?” ingin aku menjawab, “Ma, jangan bilang gitu. Sakit ma! Sakit hatiku! Kata-kata itu lebih sakit daripada diputusin cowok, ma!”
orangtuaku merasa, “Dengan uang semua beres” bahkan, mereka pernah bilang ke aku (saat aku minta kasih sayang dan perhatian) “Mama dan papa bisa beliin semua yang kamu mau, pokoknya kamu urus dirimu sendiri. Kurangkah uang yang diberikan? Kalau kurang silahkan minta berapapun! Pokoknya kamu urus dirimu sendiri!” saat orangtuaku bilang kayak gitu, ingin aku teriak, “Aku gak butuh semua uang ini! Aku gak butuh! Bakar aja semua ini! Yang aku mau adalah kasih sayang kalian! Kasih sayang kalian! Kedua orangtuaku!”
Aku berpikir, hidupku mirip cerita “New Police Story”. Tapi aku beruntung aku tak mirip tokoh utama dalam cerita itu.
Ada suatu saat. Saat-saat yang tak terlupakan dalam hidupku, yaitu, saat pertama kalinya aku melihat mamaku menangis dan berada sangaaat… dekat denganku. Yaitu saat aku mengalami kecelakaan. Walaupun hal indah itu hanya terjadi 3 hari, namun aku sangat bahagia sekali saat itu. Saat dimana aku dan mama sangat dekat. Hingga aku berpikir, “AKU INGIN KECELAKAAN SETIAP HARI” karena aku ingin selalu bersama mamaku tersayang.
I LOVE U MOM
I NEED U MOM
I NEED YOUR LOVE

tak terbalas

Saat aku menginjak kelas 8, aku bertemu dengan orang orang baru yang belum kukenal seluruhnya. Dari berbagai kelas. Hanya beberapa orang yang kukenal, tentu saja orang orang yang berasal dari kelasku dulu.
Berbulan bulan telah kulewati di kelas 8A bersama teman teman. Ada seseorang yang berhasil merebut perhatianku. Dia bernama Syifa.
Aku hanya bisa memperhatikan dia dari jauh, menyukainya dalam dia sudah cukup bagiku. Aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaan ini padanya.
Setelah sekian lama memendam perasaan ini aku melihat ada kesempatan untuk mengungkapkannya. Tepat di kelas 9. Namun di saat aku ingin mengungkapkannya, ada seseorang yang telah lebih dulu mengungkapkan perasaannya pada Syifa. Aku merasa sakit hati, tentu. Semua orang pasti akan merasakannya jika melihat orang yang kita suka menyukai orang lain. Syifa dan orang itu pun saling menyukai. Apa yang harus kulakukan? Hanya bisa diam dan mengizinkan mereka bersama. Toh mereka saling menyukai, aku tidak bisa memaksakan Syifa agar menyukaiku.
Aku meluapkan kekesalanku pada orang itu. Aku mengatakan “aku suka sama Syifa”, reaksinya? Hanya diam tak peduli. Aku pun mengatakan hal yang sama pada Syifa di hari perpisahan angkatan “aku suka sama kamu” reaksi Syifa? Dia terkejut dan memberitahu kelompok dramanya yang akan tampil di perpisahan itu. Aku tidak mengharapkan respon yang berlebih. Biarkan rasa ini terus terpendam dalam hatiku. Melihatnya bahagia sudah cukup bagiku, walaupun bersama orang lain, bukan aku.

bukannya pelit

Pernah dengar pepatah yang mengatakan bahwa “dalamnya lautan bisa diukur tapi dalamnya hati siapa yang tau?”
Nah itu yang sekarang aku rasakan, aku sekolah di salah satu SMK favorit di kotaku dan Aku jurusan akuntansi. Aku bisa dikatakan terlalu over keep pada semua barang milikku. Pernah suatu hari temanku meminjam sebuah pulpen padaku
“Ren, aku pinjem pulpen donk… ntar aku balikin deh”
“oh.. ok nih pinjem aja, yang penting balikin ntar ya”
“Ok ok siap, Ren”
Tak lama setelah pelajaran usai temanku lupa mengembalikan pulpen yang dia pinjem tadi, dan aku menagihnya ya aku menagihnya
“Ehm… sorry kemarin kamu kan pinjem pulpen, nah mana pulpennya? boleh minta dibalikin gak?”
“Dasar pelit, aku ini memang akan mengembalikannya.. jadi tak perlu ditagih segala!!!” katanya sambil bersungut-sungut
“Bukan seperti itu maksud…” tapi dia memotongnya
“Memang benar kata anak-anak, kamu itu pelit”
Akhirnya dia meninggalkan aku sendiri di kelas dan kemudian bergosip dengan temannya. Aku memikirkan topik yang ia bahas adalah aku.
Pernah suatu saat lagi temanku meminjam uang padaku tak banyak jumlahnya hanya Rp. 10.000,- dan ia berjanji akan membayarnya lusa.
“Eh, Ren aku pinjem uang kamu boleh?”
“oh.. boleh, emang mau pinjem berapa?”
“Gak banyak kok, cuma 10 ribu aja dan aku janji bakal bayar lusa deh”
“Oh.. ok nih uangnya” kataku sembari memberikan uang yang ia pinjam
Namun janji yang ia berikan tak kunjung dilakukan.. sudah seminggu lebih ia tidak membayar hutangnya padaku dan kembali aku menagihnya… ya aku kembali menagihnya
“Sorry nih vi kamu kan kemarin pinjam uangku 10 ribu dan janji balikin lusanya, nah sekarang udah lebih dari seminggu kamu.. eh.. kamu gak mau bayar?”
“Heh.. iya nih aku bayar, kamu itu pelit amat sama temen sendiri juga dan lagi aku gak bakal kabur kok!!”
“Bukan gitu.. tapi uangnya itu bu…”
“Alah banyak alasen kamu!! nih uangnya udah aku balikin!!”
“Ok makasih ya vi…”
“Bodo amat dasar pelit, bener kata anak-anak ternyata”
Setelah kejadian kejadian seperti Lani dan Vivi aku menjadi anak yang semakin pendiam dan tak punya teman yang bisa mendengarkan semua keluh kesahku. Aku jadi bingung dengan semua yang terjadi… semua temanku bilang aku ini pelit, tidak teman aku tidak seperti itu dan ketahuilah teman itu bukan hobiku
Aku mengingat kembali kejadian bersama Lani saat mengambil pulpen yang ia pinjam.. Aku punya alasan tersendiri mengapa aku melakukannya, itu semata mata karena tinta pulpenku yang satunya sudah habis dan aku tak memiliki uang untuk membeli lagi. Aku juga kembali mengingat saat aku meminta uangku untuk dikembalikan oleh vivi, itu juga hanya semata-mata karena uangku kurang 7.000 untuk membeli obat untuk ayahku yang sedang sakit.
Aku tak seperti yang kalian pikirkan kawan, tolong mengertilah! Setiap aku ingin menjelaskannya kalian selalu memotongnya dan tak membiarkanku untuk menjelaskannya. So Guys Please Don’t do that to me

perjalanan seorang anak

Hai sobat dan para pembaca cerpen saya, saat ini saya akan menceritakan kisah kehidupan adik angkat saya dan teman.
Di suatu hari yang sangat indah saya sedang bermain hp menbuka sosmed untuk cari info tentang organisasi saya dan pada saat itu kebetulan ada salah satu teman saya yang menbuat status yang berisikan permintaan untuk meminta no hp teman-teman grup sosmed saya. Banyak yang nulis komen mengenai no hp saya dan saya pun ikut komen, serta pada saat itu pula saya mengambil beberapa nomor hp teman-teman saya. Lalu saya hubungin nomornya semua anak yang tadi saya ambil. Hingga akhirnya ada beberapa anak yang menbuat saya penasaran. Kita sebut aja namanya dengan Siti (bukan nama sebenarnya). Dari pada kalian penasaran seperti apa sih kehidupan mereka sehingga saya mengangkat cerita mereka maka mari saja kalian langsung baca cerpen saya ini.
Saya mulai kisah si Siti. dia itu termasuk anak pintar, pekerja keras, baik dan cantik. Tapi sayangnya dibalik kecantikan dia tersembunyi kisah yang sangat menyedihkan. Pada suatu hari yang indah di bawah terik matahari Siti sedang buru-buru pulang untuk menjenguk ibunya di rumah sakit, yang sangat jauh tiba-tiba saja motornya rusak tidak mau nyala, serta firasatnya sangat buruk mengenai ibunya itu. Singkat cerita motornya telah dinyalakan kembali lalu dia pergi ke Rumah Sakit, dan benar saja firasatnya dia yang tadi. Semua orang sedang kumpul di depan ruangan ibunya.
“Siti, cepet masuk ibu kamu mau ketemu sama kamu” kata paman ya yang lihat Siti baru sampai
“Iya paman” dia langsung masuk ke ruangan
Di dalam ruangan ibunya dan ayahnya telah menunggu dia,
“nak, kamu udah datang!!” kata ibunya yang sedang terbaring
“iya, bu” dia langsung ke kasurnya ibunya
“gimana kabarnya ibu” kata dia sambil memagang tangan ibunya.
“iya, alhamdulilah baik nak. Nak, ibu mau pergi ibu titip ayah ya nak” kata ibunya sambil menguluarkan air mata.
“ibu mau kemana, Jangan tinggalkan saya ibu” kata Siti sambil memanggang erat tubuh ibunya.
“yah, saya titip anak kita ya” kata ibunya
“iya Bu saya akan menjaga dia sampai kapan pun” kata ayahnya sambil memeluk Siti
Tidak beberpa lama setelah itu ibunya lalu menghembuskan nafas terakhirnya. Dan seketika itu juga tangis Siti dan keluarganya pecah. Satu kemudian setelah kematian ibunya Siti mengalami kecelakaan motor, lalu dia koma selama 1 minggu lebih. Ketika dia terbangun dari komanya dia langsung kaget setelah dokter memvonis dia kena penyakit kanker otak stadium 2. Dan sekita itu pula dia menangis seakan tidak percaya akan hidup yang dia jalanin bagaikan dunia itu sudah musnah di hadapan dia. Lalu dia berusaha bangkit dari keterpurukan dia, mungkin jika kalian lihat dia yang saat ini kalian mesti tidak percaya sama cerita saya ini karena di hadapan orang lain dia berusaha tersenyum lebar dan menunjukan bahwa dia masih mampu berdiri sendiri tampa bantuan orang lain.

jakarta tak seramah mentari

Seperti sebuah jantung dalam tubuh yang bertugas memompa darah dan mngalirkannya ke seluruh tubuh. Itulah perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan Jakarta saat ini. Sebuah kota metropolitan yang tak pernah tidur, Jakarta menjadi bagian terpenting dalam peradaban manusia Indonesia. Kota ini menjadi pusat perekonomian Negara ini. Kiblat semua industri, dari terkecil, menengah sampai keatas. Dari dunia religi sampai dunia hiburan. Jakarta, bagiku kau memiliki dua sisi. Wajahmu terlihat gagah nan perkasa dengan ribuan gedung-gedung menjulang tinggi yang menggelitik langit. Wajahmu seperti anak yatim nan kelaparan ketika kau perlihatkan pemukiman kumuh nan kotor. Tidakkah kau sadar wahai Jakarta yang agung?, kau menjadi besar karena kedatangan kaum urban.
Menjadi kaum urban atau tetap pada zona aman? Itulah pertanyaan yang terus menghantuiku. Setelah menyelesaikan studyku di Universitas Semarang, sekarang aku harus dihadapkan dengan dunia yang sesungguhnya. Aku adalah anak kedua dari lima bersaudara. Kakak aku sudah menikah dan punya anak satu. Dia juga lulusan sarjana ekonomi, tapi dia tidak mau menggunakan ijasahnya dalam berkarir. Meneruskan usaha ayah menjadi pilihan terbaik saat ini. Dengan omset yang tidak begitu tinggi dia hanya cukup untuk menghidupi keluarga kecilnya sendiri. Dan kelangsungan hidup adik—adik aku kini ada di tanganku.
Setelah dua bulan mengganggur, akhirnya aku memutuskan untuk hijrah ke Jakarta. Dari sebuah terminal takdirku akan diproses. Sangkakala sudah dibunyikan pertanda perang akan dimulai. Perang antara manusia dan waktu. Perang antara manusia dengan kata sabar. Setelah 8 jam perjalanan aku tiba di terminal Cibitung-Bekasi. Rasa kantuk yang masih bersemayam di mataku membuat aku tidak bisa berpikir jernih. Alhasil sebuah kardus yang berisi bekal dan dua buah celana untuk melamar pekerjaan tertinggal di bus yang tadi aku tumpangi. Ceroboh, bodoh itulah kalimat kutukan yang tepat. Aku hanya bisa bersedih dan merelakan kepergiannya. Ikhlas menjadi kata terakhir untuk bisa bangkit lagi.
Setelah cukup lama duduk di sudut terminal, kriiiing dering telepon berbunyi. Terlihat nama kakak sepupuku di layar handpondku, dengan nada yang masih pasrah aku pun menjawab telpon tersebut “hallo, mbak?” sahutku memulai percakapan. “alex, kamu sudah sampai mana?” tanyanya dengan nada yang agak panik. “sudah di terminal Cibitung mbak” jawabku. “ya sudah, tunggu disitu saja!” pintanya. Tak lama kemudian, sebuah motor supra berwarna hitam mendatangiku. Terlihat seorang pria dengan setelan jaket kulit dan celana jeans turun dari motor sambil membuka kaca helmnya dan memintaku “ayok naik! Sudah ditunggu mbak. Jannah di rumah”. Seperti kerbau dicocok hidung aku pun mengikuti perintahnya.
Kuda besi yang kami tumpangi melaju dengan kencang sampai mataku tak mampu lagi untuk melihat kedepan. Tamparan angin membuat pipiku sakit dan sesekali sambermata istilah jawa bagi binatang kecil yang sering ada di jalan menghantam mataku. Aku coba untuk mengintip depan sepeda motor, sekedar ingin tahu berapa kilometer per jam motor ini melaju. Aku kaget. Terpampang 100km/jam kecepatan motor ini. Mengetahui itu aku langsung berpegangan pada jaket kulit milik suami kakak sepupuku. Ketika memasuki tikungan terdengar ban berdecit keras. Jantungku rasanya mau copot. Aku hanya bisa merapal doa untuk keselamatan kami berdua.
Sesampainya di rumah, keramahan dan kehangatan keluarga ini mulai terasa. Mereka seperti para peri yang murah hati. “Berangkat jam berapa dari rumah?” Tanya kakakku sembari mengambil tas dan kardus dari tangan aku. “jam 8 kak” jawabku singkat. “kamu kenapa?” tanyanya dengan mata penuh curiga. Lalu aku pun menceritakan kejadian yang tadi aku alami. “ya sudah tidak apa-apa” bujuknya sambil menuntutku ke dalam rumah. Terlihat hidangan sudah tersedia di lantai yang telah dibentangkan karpet. Meskipun sederhana tapi ini begitu istimewa dan mengurangi rasa kecewaku karena telah kehilangan kardus tadi. Selesai menyantap hidangan, aku bergegas mencuci piring dan langsung bersiap-siap untuk istirahat karena besok aku harus dalam keadaan fit untuk mencari lilin harapan di sekitar kota ini.
Mentari yang ramah telah muncul dari persembunyiannya. Tapi aku tak bisa merasakan keramahan mentari pagi di kota ini bahkan merdunya kicauan burung kenari. Hanya ada kebisingan knalpot yang telah membanjiri jalanan kota bekasi. Mungkin karena inilah mentari disini tak seramah di kampung halaman. Asap pekat yang menyembur dari mulut knalpot oplet tua menjadi penyebab marahnya sang mentari. Udara pagi yang panas, pengap dan berasap.
Tiba-tiba sebuah angkutan umum mengagetkanku dengan suara klaksonnya yang cempreng. Biiibbb “ayo, naik bang!” terlihat seorang pria paruh baya dengan hidungnya yang agak miring ke kanan menawariku untuk naik ke angkotnya. Kulihat nomor seri yang ada di depan angkot, lalu aku pun masuk ke dalam angkot dan berkata “depan pasar ya bang”.
Sesampainya di pasar aku turun dan harus ganti angkot lagi dengan nomor 02. Tak berapa lama akhirnya angkot yang aku tunggu datang. Aku pun tidak sungkan-sungkan untuk langsung naik dan masuk ke dalam angkot tersebut. Sampai di perempatan aku harus turun lagi dan berganti angkot untuk ketiga kalinya sebelum akhirnya aku sampai ke stasiun bekasi kota.
Antrian panjang sudah menjadi pemandangan umum. Setalah mengantri agak lama. Tiba giliranku untuk membeli tiket kereta yang sudah didesain canggih. Wajar kalau masyarakat lebih memilih untuk naik kereta karena tiket masuk yang sudah berbentuk kartu dan harganya pun murah. Tidak hanya itu, kereta yang sudah disediakan pemerintah saat ini sudah sangat bagus, aman dan nyaman meskipun harus berdiri dan bahkan berhimpitan dengan orang lain. Aku pandangi di sekelilingku, semua orang sibuk dengan handphonenya masing-masing. Mereka asyik bermain sosmed sampai lupa nilai sosial yang sesungguhnya. Mereka yang mendapat tempat duduk tidak mau peduli dengan ibu yang sedangg hamil yang berdiri di depannya. “beginilah Jakarta” gumamku dalam hati.
Sesampainya di stasiun Jakarta kota, aku tampak seperti orang bodoh. Maklum pertama kali di Jakarta. Lalu aku berjalan ke luar dari stasiun. Sesampainya di luar, ada seorang gadis di seberang jalan yang melambai ke arahku. Aku perhatikan dengan seksama. Dia tampak cantik dengan balutan krudung warna merah yang dipadu dengan batik khas Pekalongan. Wajahnya Nampak tak asing buatku dan benar saja itu pacarku sendiri. Dia memang sudah lama tinggal di Jakarta. Berhubung aku tidak tahu arah jalan, jadi dialah yang menghampiriku. Dia benar-benar menepati janjinya untuk mengajakku mengelilingi kota ini.
Setelah berkeliling kota menggunakan busway. Aku tiba di sebuah tempat bernama mega kuningan. Aku hanya bisa melongo melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi dan jalanan yang lebar. Aku kagum. Semoga saja gedung-gedung ini bukan menjadi sysmbol dari kesombongan kota ini. Perjalanan kami terhenti di sebuah gedung “the east” karena gedung inilah tempat kami akan melakukan test dan interview. Katro dan ndeso itulah ungkapan untuk kami saat ini. Yah, karena kami memang dari ndeso masuk ke lift aja tidak bisa dan harus dibantu oleh satpam. Agak malu si, tapi cuek ajalah.
Ting, bunyi lift menandakan sudah sampai ke lantai 15. Kami pun ke luar dan bersegera masuk ke sebuah ruangan yang ada di ujung lorong gedung. 2 resepsionis menyambut kami dengan tawa genit dari mulutnya yang tipis. Terasa gigitan semut di pinggangku karena cubitan dari pacarku. “ada yang bisa aku bantu?” tanyanya lembut penuh keramahan. “kami ada panggilan interview disini mbak”. Jawabku sambil menyerahkan cv kami berdua. Lalu kami duduk menunggu untuk bertemu dengan HRD.
Setengah jam menunggu, akhirnya kami mendapat kesempatan untuk interview. Sedikit grogi. HRD mulai bertanya ini dan itu. 10 menit berlalu akhirnya interview selesai. Tahapan selanjutnya adalah psikotes. Kami masuk ke dalam ruangan yang berisi penuh dengan komputer. Disitulah kami mengerjakan psikotes. 2 jam lamanya kami mengerjakan soal yang menerutku tidak begitu penting dan kini kami harus menunggu untuk dipanggil ulang apakah kami layak untuk bekerja atau tidak.
Jam menunjukkan pukul 3 sore. Kami harus pulang. Di depan stasiun kami berpisah. Dia harus pulang naik angkutan umum dan aku harus naik krl dan masih berlanjut naik angkutan sebanyak 3 kali. Sungguh malang nasibku. Ketika sampai di pasar bantar gebang, aku tidak lagi menjumpai angkutan yang akan membawaku sampai depan perumahan. Aku harus berjalan kaki sepanjang 3 km sampai akhirnya aku menjumpai angkutan yang aku cari. Cukup lelah juga berjalan sejauh itu.
Berminggu-minggu pergi-pulang bekasi–Jakarta kota tapi belum juga mendapat pekerjaan yang aku inginkan. Aku jadi teringat akan lagu yang diciptakan iwan fals yang berjudul “sarjana muda” lagu yang menggambarkan seorang sarjana yang mencari pekerjaan untuk bisa menyenangkan hati ibunya. Hati ini sperti tersayat pisau. Sakit. Hanya bisa menahan agar sakit ini tidak terlihat dari luar.
Setalah genap 1 bulan, aku akhirnya memutuskan untuk pulang kampung dan meminta maaf kepada ibu karena tidak bisa menjadi apa yang diharapkan. Aku putus asa. Jakarta tak seramah mentari pagi dan tak seindah kicauan kenari.

ada rindu dibalik gunung agung

Aku masih ingat, dua murid di SDN 03 Sebudi. Berada di desa kecil nan asri di lereng Gunung Agung Bali. Selalu kurindu sejak pertama kali meninggalkannya, beberapa tahun lalu. Dalam suatu perjalan rasa, cita, cinta dan harapan. Meski di akhir-akhir petualanganku saat itu, sempat merasa jenuh dan ingin segera pulang ke Bogor. Namun kini berbalik, aku malah ingin kembali berpetualang ke sana. Putu dan Kadek, kakak beradik yang begitu tegar dalam kehidupan.
Saat itu Putu kelas enam, sementara Kadek kelas tiga. Secara perhitungan, jika Putu melanjutkan sekolah, seharusnya sekarang Putu duduk di bangku SMA.
Pagi itu.
Udara dingin merasuk, rasanya sungkan untuk membuka mata. Selimut tebal yang dibawa dari Jakarta seakan memeluk erat, memberi kehangatan dan kenyamanan. Suasana yang membuatku bersama teman-teman masih terlelap di sebuah rumah singgah yang terletak tidak jauh dari SDN 03 Sebudi.
“Dok dok dok…” Suara ketukan pintu memecah suasana.
Aku terbangun malas, mengintip dari celah pintu, hari masih terlalu pagi rupanya. Dari celah pintu, dua orang anak berseragam sekolah terlihat duduk manis di depan pintu. Salah seorang menggenggam serangkaian bunga warna-warni. Seorang lainnya tengah berdiri di ambang pintu.
“Siapa kedua anak itu? Giat sekali datang ke sekolah,” gumamku.
Saat itu hari kedua Ekspedisi kami, jadi aku belum mengenal mereka.
“Hai Adik! Pagi sekali sudah datang,” sapaku sembari membuka pintu.
“Iya Kak!” Kata si anak laki-laki.
“Ini untuk Kakak.” Si anak perempuan bicara perlahan, sambil memberikan rangakaian bunga yang diikat akar rambat.
“Wah, bagus sekali bunganya. Kamu yang buat?” Aku tersenyum dan mengelus kepala si anak perempuan.
“Iya Kak!” Jawabnya tersipu.
“Terima kasih ya. Ayo masuk”. Ajakku sambil menyambutnya untuk digandeng.
“Makasih Kak! Kami tunggu di taman saja”. Si anak laki-laki menolak dengan nada sungkan.
“Oh ya sudah kalau begitu. Kalian sudah sarapan?” Mereka tidak menjawab, hanya menggelengkan kepala.
Aku mengulangi pertanyaan. Mereka kembali menggelengkan kepala.
“Kalau begitu ayo kita sarapan. Tunggu, Kakak masuk dulu sebentar ya”.
Aku baru sadar, penawaranku akan menjadi hampa. Tidak ada apa-apa, hanya ada penanak nasi yang baru kami beli kemarin malam. Namun belum ada beras atau bahan makanan lain yang bisa dimasak, sementara teman-teman masih tidur.
Aku kembali ke luar.
“Hmm, di sini ada yang jual sarapan Dik?” Tanyaku sedikit bingung, karena sudah terlanjur mengajak mereka sarapan.
“Semoga ada yang menjual makanan di sekitar sekolah,” gumamku.
“Ada kak, Ibu Laksmi” Si anak laki-laki menjawab.
“Di mana?”
“Itu Kak, di depan gerbang sekolah” sambil tangannya menunjuk satu titik.
“Wah, ayo kita kesana,” ajakku.
Tak ada sahutan, hanya senyum terukir dari keduanya. Lalu aku menggandeng mereka.
Pagi masih terasa sejuk. Sepanjang perjalanan menuju penjual makanan, sebuah taman di suatu sekolah nampak tertata sederhana, berpadu bunga warna-warni yang terlihat asri.
Tak berapa lama sampailah di warung makan. Beberapa kursi belum tertata sempurna, menu juga belum sepenuhnya memenuhi tempat saji, ya warung baru saja buka. Sejenak memperhatikan keadaan di dalamnya, warung nampak tua dengan pintu dan jendela besarnya terbuat dari papan yang kokoh. Begitu juga jendela, tidak seperti pada umumnya, cara membukanya seperti kap mobil.
Posisi warung menempel pada rumah yang dindingnya terbuat dari bilik bambu ini, beberapa bagian sudah terlihat ditambal papan dan triplek. Tiang-tiang kayu berdiameter sekitar 10 sampai 20 sentimeter sudah mulai lapuk dan usang, terkena asap dari tungku. Lantainya masih asli dari tanah, karena seringnya terinjak, semakin lama makin mengeras.
Seorang nenek menata makanan di tempat saji.
“Itu yang punya warung Kak”, bisik salah seorang anak.
Si Nenek membuka percakapan, namun agak sulit kumengerti, bahasa Indonesianya tidak terlalu fasih. Beruntung si anak laki-laki bisa menerjemahkan. Setelah diberitahu Putu, di sini menjual makanan serupa pecel atau gado-gado. Aku memutuskan untuk memesan tiga porsi untuk kami.
Cara pembuatan serta tampilannya berbeda, dari yang sering kujumpai di Bogor, membuatku sedikit meragukan kenikmatannya. Nenek tua itu mengulek bumbu dengan cekatan namun perlahan. Maklum di usia yang sudah sekitar 60 tahun, harusnya beliau sudah pensiun dari aktivitasnya, duduk santai menikmati hari tuanya.
Sambil terus mengulek bumbu, perlahan air dituangkan. Apa yang kulihat? Si Nenek menyirakan air ke tangannya hampir mendekati siku. Perlahan air mengalir hingga ke ujung jarinya, membasuh kulitnya yang sudah tak kencang.
Beberapa menit menanti, dua piring pecel siap disantap. Terlebih dahulu ku berikan kepada Putu dan Kadek.
“Silahkan kalian duluan” sambil aku meyodorkan dua piring.
“Iya kak, terima kasih ya” jawab keduanya nyaris serempak.
Aku melihat mereka sangat lahap. Sepertinya enak.
“Enak Dik?” Tanyaku memastikan.
“Enak sekali Kak! Kakak harus coba. Pecel Mbok Laksmi paling enak di sini” Sahut Putu.
Aku hanya bisa menelan ludah, sedikit masih tidak percaya. Tak lama kemudian si nenek kembali, membawa sepiring pesanan lagi. Sembari tersenyum kepadaku.
“Terima kasih Nek!” ucapku.
Mengawali sarapan seolah dengan berdo’a khusus dalam hati. Meski masih terasa berat, perlahan satu sendok suapan mendarat di mulut, lalu kucoba mengunyahnya. Apa yang kurasa? Pecel ini sangat enak. Aroma kencur yang khas, membuat rasanya lebih unik dari pecel lainnya yang pernah kunikmati. Bumbu kacangnya pun tidak terlalu manis, cocok buatku yang tidak terlalu suka makanan manis. Sayur-sayuran yang direbus setengah matang terasa lembut, pas berpadu dengan bumbunya.
Dugaanku salah. Meski cara pembuatannya tidak biasa, menghasilkan rasa yang luar biasa. Pengalamannya bertahun-tahun mengolah sayuran dan bumbu, mampu menghasilkan cita rasa yang tak diragukan kenikmatannya.
Beberapa waktu kami masih bertahan di warung makan Mbok Laksmi, sambil berbincang-bincang.
“Kalian pagi sekali ke sekolah, berangkat jam berapa dari rumah?” Tanyaku penasaran.
“Kita berangkat fajar Kak”.
“Jam berapa?”
“Kayaknya sebelum jam 5 Kak”.
“Wah, sepagi itu? Rumah kalian di mana memang?”
“Di atas Kak!” Kata Kadek, sambil menunjuk ke arah Gunung Agung yang nampak dari tempat kami berada.
“Jauh sekali dari sini” tambah Putu.
“Di gunung Agung? Kalian jalan kaki?” tanyaku takjub.
“Iya Kak!”
“Waduh, kamu kuat jalan kaki sejauh itu setiap hari?” Tanyaku kepada Kadek.
Namun dia tidak menjawab, hanya senyum menggemaskan terukir di wajahnya.
“Aku gendong Kak” Sahut Putu sambil melanjutkan sarapan.
“Kamu yang gendong? Setiap hari?”
“Iya Kak! Kalau kelihatan lelah, berangkat dan pulang aku gendong. Tapi kalau masih kuat dia jalan sendiri.”
“Kalian luar biasa. Oh iya, kakak belum tahu nama kalian. Nama kamu siapa?”
“Aku Putu Kak.”
“Si cantik ini adikmu? Siapa namanya?”
“Iya Kak! Namanya Kadek.”
Masih sambil menyantap makanan, perbincangan terus berlanjut. Suasana terasa hening, hingga suara sendok dan piring yang saling beradu pun terdengar.
“Pantas kalian tidak keburu sarapan ya? Pasti Ibu kalian belum sempat membuatkan sarapan”.
“Kami memang tidak pernah sarapan Kak”. Sahut Putu sambil menghela nafas.
“Kenapa Dik?”
“Ayah biasanya pulang dari tambang pasir jam 8 pagi Kak. Kadang kalau Ayah sedang tidak ke tambang, Ayah membuatkan sarapan.”
“Oh gitu. Kalau Ibu?”
Tidak ada jawaban. Putu seolah tidak mau menjawabnya. Dia terus melahap makananya. Perlahan Putu terdengar mengeluarkan suaranya, nyaris bergumam.
“Ibu tidak ada Kak.”
“Hmm, maaf Putu”. Seketika suapanku terhenti. Beberapa saat menatap ke arah Putu.
“Ibu kalian sudah meninggal?”
“Tidak Kak,” jawab Putu, “tidak tahu Ibu kemana”.
“Ibumu pergi?”
“Iya kak”
Sementara Putu telah selesai sarapan, Kadek masih melahap sarapannya yang belum habis. Bale-bale cukup tinggi, membuat kaki Kadek berayun seolah dia tengah duduk di ayunan.
“Memang Ibu pergi ke mana?”
“Kata Ayah, ibu ke Palembang,” terang Putu, “sejak aku kecil dan Kadek masih bayi. Aku sudah lupa itu, tapi kadang ayah suka cerita tentang Ibu.”
“Ibu kalian kerja di Palembang?”
“Aku tidak tahu Kak,” jawab Putu, “Ibu pergi dan belum kembali.”
“Aku ingin bertemu ibu.” Kata kadek perlahan.
“Aku juga,” balas Putu.